Rabu, 03 April 2019
Selasa, 02 April 2019
Dimensi Sains Isra' Mi'raj
Oleh : Prof. Dr. Fahmi Amhar
(Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial
Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie)
(Arrahmah.com) – Ketika peristiwa Isra’ Mi’raj diperingati, pada umumnya para khatib menghubungkannya dengan perintah sholat. Begitu pentingnya ibadah sholat, sehingga Rasulullah sampai dipanggil langsung bertemu Allah di langit.
Sholat adalah pilar agama. Sedang sholat berjama’ah dapat disebut “pilar negara”, karena memberi pelajaran berharga model kepemimpinan dalam Islam, yang tetap relevan sampai kapanpun. Kepemimpinan Islam bukanlah diktatur (karena imam bisa diingatkan bila salah dan diganti bila batal), juga bukan demokratis (karena syarat dan rukun sholat tak bisa didiskusikan). Pemimpin dipilih oleh rakyat untuk memimpin dengan syariat dari Tuhan Yang Maha Esa. Sudah benar bahwa di konstitusi kita tidak tersurat “demokrasi” namun “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.
Namun Isra’ Mi’raj sebagai sebuah perjalanan ajaib di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di bumi yang diberkati juga memiliki dimensi sains dan politik.
Dimensi sains karena perjalanan Isra’ saja yang menempuh jarak kurang lebih 1250 Km pada masa itu sudah sesuatu yang mustahil ditempuh dalam semalam. Memang saat ini, dengan pesawat supersonik, perjalanan itu dapat ditempuh 15 menit saja. Namun peristiwa mi’raj ke langit tentu tetap misterius.
Andaikata perjalanan pergi-pulang ke langit itu ditempuh dari ba’da Isya (sekitar pukul 20) sampai menjelang Shubuh (sekitar pukul 04), maka jarak bumi – langit adalah 4 jam. Bila Nabi beserta malaikat jibril bergerak dengan kecepatan cahaya, maka jarak yang ditempuh baru sekitar 4.320.000.000 Km, atau baru di sekitar Planet Neptunus. Belum keluar tata surya. Bintang terdekat Proxima Alpha Centaury ada pada jarak sekitar 4,2 tahun cahaya. Tidak mungkin dikunjungi pergi-pulang dalam semalam.
Apalagi ada kendala Teori Relativitas Khusus. Menurut Einstein, materi yang bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka akan mengalami kontraksi ukuran sampai mendekati nol, dan pada saat yang sama massanya mendekati tak terhingga. Apakah Nabi mengalami hal itu?
Misteri ini tentu makin menantang para ilmuwan muslim untuk menjawab dengan berbagai teori fisika yang dikenal saat ini. Teori Einstein sudah terbukti ribuan kali di dunia fisika partikel, dan juga pada satelit yang mengorbit bumi 90 menit sekali sambil membawa jam atom.
Ada juga yang mencoba memahami dengan ayat 70 Surat al-Maarij, “Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”, sebagai jarak ke langit adalah 50.000 tahun cahaya. Malaikat mampu melesat dengan laju jauh di atas cahaya (Faster Than Light, FTL-Travelling).
Namun astrofisika memastikan bahwa sehari malaikat ini belum keluar dari galaksi Bimasakti. Galaksi tetangga Andromeda saja berjarak 2,5 juta tahun cahaya. Dan itu juga belum langit. Di manakah langit sebenarnya? Batas jagad raya teramati ada pada 14 Milyar tahun cahaya!
Melihat hal ini, sains mulai berspekulasi bahwa dunia yang kita amati ini memiliki struktur yang tidak linear. Terlalu banyak materi gelap (“dark matter”) yang mungkin telah melengkungkan ruang dan waktu. Allah barangkali telah memasang “gerbang-gerbang langit” yang bisa menjadi jalan pintas ke lokasi yang maha jauh. Bukankah Allah telah memberi tantangan “Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” (QS 55:33). Dan relativitas waktu telah ditunjukkan dengan kisah Ashabul Kahfi, yang ditidurkan selama 309 tahun, sementara mereka hanya merasa setengah hari.
Semua ini memang ujian keimanan. Namun bagi seorang mukmin, iman yang ideal adalah iman yang produktif. Ada ratusan ayat suci yang menggelitik seorang muslim untuk menguak rahasia alam. Itulah yang diinginkan Allah ketika berfirman “Maka mengapa kalian tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan, dan langit ditinggikan?“ (QS 88:17-18). Muslim generasi awal menjadikan ayat itu inspirasi untuk mempelajari biologi dan astronomi. Kitab astronomi “Almagest” karya Ptolomeus (100-170M) pernah dijadikan “kitab tafsir” atas ayat tersebut.
Maka abad pertengahan dihiasi oleh ratusan astronom muslim, dari Al-Battani (858-929M), Al-Biruni (973-1048M), hingga Quthubuddin As Syairazy (1236–1311M). Mereka tidak hanya memastikan bulatnya bumi, juga mewariskan teknik mengukurnya, bahkan memastikan bahwa bumi bukan pusat tata surya, ratusan tahun sebelum Copernicus (1473-1543M).
Dalam teknologi, Abbas Ibn Firnas (810-887M) dari Cordoba diketahui benar-benar membuat alat terbang. Dia berhasil terbang dengan alat yang kita kenal sebagai gantole dan parasut. Lebih 11 abad kemudian Wright bersaudara dari Amerika menambahkan mesin padanya, dan jadilah pesawat terbang bermesin.
Pada abad pertengahan, umat Islam memiliki keunggulan di bidang sains ketika semangat berpikir menguak rahasia alam masih tinggi, dan iklim mencintai sains masih hidup baik di masyarakat maupun di pemerintahan. Berijtihad dalam sains masih dianggap ibadah dan amal jariyah. Dan berwakaf untuk laboratorium atau observatorium masih menjadi gengsi para aghniya.
Namun ketika aktivitas berpikir makin diabaikan, maka ada suatu titik ketika bangsa Barat menyalip keunggulan peradaban Islam, dan akhirnya penjajahan atas negeri-negeri Islam dimulai. Puncaknya adalah saat al Aqsha di bumi yang diberkahi dijajah oleh Israel hingga hari ini. Inilah dimensi politik dari Isra’ Mi’raj.
Oleh karena itu, dalam memperingati Isra’ Mi’raj sudah sewajarnya kita kuatkan kembali keimanan, lalu kita jadikan sholat berjama’ah sebagai model kepemimpinan Islam. Kemudian kita jadikan cinta sains untuk membangun ulang peradaban Islam, yang akan menjadi bekal memerdekakan bumi Islam yang terjajah.
Umat Islam tanpa sains dan teknologi terbukti mudah terjajah. Sains dan teknologi tanpa Islam cenderung menjajah. Hanya jika umat Islam memegang kendali atas sains dan teknologi, maka mereka akan kembali merahmati alam, membebaskan dunia dari penjajahan.
(*/arrahmah.com)
Senin, 01 April 2019
Inilah 10 Kriteria untuk Jadi Guru Profesional
Selain rajin, disiplin, dan sabar, apa saja kriteria yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru? Yuk, cek parameternya agar Bapak/Ibu menjadi teladan bagi siswa sekaligus guru profesional.
1. Adil
Jadilah sosok pendidik yang obyektif, bukan subyektif. Adil di sini berarti Bapak/Ibu tidak berpihak pada satu sisi atau kelompok tertentu. Jadi, harus mampu menyikapi setiap siswa dengan karakter dan kemampuan yang beragam.
2. Terbuka
Selain itu, keterbukaan juga merupakan kriteria yang sangat penting bagi guru. Menerima kedatangan, pertanyaan, kritik, hingga masukan dari siswa. Untuk memperbaiki karakter siswa, Bapak/Ibu terlebih dulu harus melakukan perbaikan. Cobalah bersikap demokratis, tentu kelas akan jauh lebih menyenangkan.
Bukan hanya sikap, namun juga pikiran. Dengan terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, Bapak/Ibu harus bisa berpikiran terbuka. Ketimbang mengotak-ngotakkan mana murid pintar, bodoh, dan sedang-sedang saja, alangkah baiknya jika diubah sedikit cara berpikirnya. Setiap anak memiliki keunikan dan bisa sukses di kemampuannya masing-masing. Ketika Bapak/Ibu berpikiran terbuka, maka akan lebih mudah juga menyerap ilmu dari siapa pun, tanpa berpikir “Ah, saya sudah tahu itu,”. Zaman sekarang, ilmu itu bisa dari siapa saja lho, termasuk siswa di kelas.
3. Jadi Contoh
Selama ini, metode pengajaran apa saja yang telah Bapak/Ibu terapkan? Kalau hanya menyampaikan materi dengan ceramah panjang, rasanya tidak akan efektif. Pernah dengar “masuk telinga kiri, keluar telinga kanan”, kan? Tentu Bapak/Ibu tidak ingin hal demikian yang terjadi pada para peserta didik. Sebagai contoh sederhana, misalnya ada sampah yang tidak pada tempatnya di dalam kelas. Daripada hanya menegur “Jangan buang sampah sembarangan ya, anak-anak,”, akan lebih baik jika Bapak/Ibu langsung mengambil sampah tersebut dan memasukkannya dalam tempat sampah. Kemudian, ajak siswa bersama-sama membersihkan sambil menghias kelas. Ingatkan siswa bahwa sebagai penghuni kelas, maka harus bertanggungjawab atas semua yang dipakai, termasuk menjaga kebersihan dan ketentraman kelas. Dengan Bapak/Ibu memberi contoh, siswa tentu perlahan-lahan akan memiliki kesadaran untuk melakukan hal serupa. Hal ini juga akan mendewasakan siswa lho.
4. Bijaksana
Menjadi seorang guru, berarti harus bijaksana. Baik dalam mengambil keputusan, menyikapi masalah, maupun bertindak. Kalau Bapak/Ibu mampu menjadi sosok pendidik yang bijak, siswa tentu akan lebih respect. Pendidik yang bijaksana tahu bagaimana melakukan pendekatan yang tepat terhadap peserta didiknya.
5. Fleksibel
Well, menjadi guru memang harus punya prinsip, baik dalam nilai-nilai maupun pengetahuan. Namun, dalam menyampaikan prinsipnya, Bapak/Ibu sebaiknya fleksibel. Fleksibel di sini maksudnya adalah tidak kaku dan mampu menyesuaikan dengan kondisi, perkembangan, sifat, kemampuan, serta latar belakang siswa.
6. Peka
Bapak/Ibu Guru harus bisa cepat mengerti, memahami, dan melihat dengan perasaan apa yang terlihat pada siswa. Mulai dari ekspresi wajah, gerak-gerik, nada suara, dan lainnya. Jadi, guru dapat segera memahami apa yang dialami oleh siswa. Tidak hanya cepat memahami, tapi juga cepat tanggap untuk menanggulanginya.
7. Memahami proses
Dalam belajar dan mengajar, maka terjadi sebuah proses. Nah, proses ini tidak selalu mudah dilalui dengan cepat, bergantung pada individu masing-masing. Maka, penting sekali bagi seorang guru untuk bisa memahami arti proses. Memilih untuk menjadi guru tentu harus siap stok sabar yang banyak, bukan? Misalnya dalam mengajar, jika siswa tidak mudah memahami, maka jangan langsung dimarahi. Coba cek lagi, bagaimana karakter, tipe belajar, dan cara mengajar siswa tersebut.
Ketika selesai mengajar, seringkali Bapak/Ibu kembali ke rumah dalam keadaan yang sangat lelah. Tak terhindarkan juga rasa jenuh yang melanda ketika kehabisan akal menghadapi para siswa. Ini hal yang manusiawi kok. Namun, bisa diminimalisir jika Bapak/Ibu ingat betapa pentingnya sebuah proses. Jika merasa masih gagal dalam mengajar, cobalah untuk tetap menghargai setiap usaha yang telah dilakukan. Apabila hanya fokus pada kegagalan, maka akan memicu kemalasan, dan motivasi mengajar pun ikut turun. Jadi, hargai proses dan teruslah berinovasi.
8. Pengendalian diri
Menjadi seorang guru yang akan jadi teladan siswanya, maka harus bisa mengendalikan diri. Bapak/Ibu mampu memberikan pertimbangan rasional dalam memutuskan sesuatu dan memecahkan masalah. Kemudian, dapat menjalin hubungan sosial yang wajar dengan siswa, sesama guru, serta orangtua. Seorang guru yang profesional juga artinya telah bisa mengendalikan emosinya. Tahu bagaimana, kapan, dan di mana harus menyatakan emosinya.
9. Konsisten
Seorang guru juga harus bersikap konsisten, tidak plin-plan. Kalau sedikit-sedikit berubah, tentu akan berpengaruh pada tingkat respect siswa ke gurunya. Coba Bapak/Ibu tegas dan berwibawa dengan menerapkan disiplin positif. Kalau dari awal kesepakatannya A, maka seterusnya akan A, jangan tiba-tiba berubah haluan menjadi B. Sewaktu-waktu mungkin saja ada perubahan, asal disertai alasan yang masuk akal dan memberi manfaat bagi seluruh pihak.
Menjadi seorang guru harus konsisten dalam mengajar. Guru yang profesional dan tidak hanya berprofesi sebagai pengajar, namun juga mendidik, membimbing, mengarahkan, serta mengevaluasi siswa. Sebagai guru, Bapak/Ibu dituntut menjadi sosok yang mampu menanamkan nilai-nilai terhadap siswa hingga mencapai kedewasaan. Jadi, harus tinggi konsistensinya.
10. Memahami jiwa siswa
Seorang guru itu layaknya dokter. Bagaimana dokter mengobati pasien yang sakit? Tentu dokter tersebut harus paham jenis penyakit yang diderita beserta pengobatannya. Nah, sama halnya dengan guru, mengobati jiwa siswa dan membentuk karakter baik. Oleh karena itu, jadilah guru yang mengerti sifat dasar jiwa manusia, kekurangan, serta cara menanganinya.
Seorang guru ibarat seorang dokter. Untuk mengobati yang sakit, maka deperlukan dokter yang mengerti jenis penyakit yang diderita serta cara-cara mengobatinya. Begitu pula dengan seorang guru, dalam mengobati jiwa anak didiknya, membentuk akhlak yang baik. Untuk itu dibutuhkan pendidik yang mengerti akan sifat dasar jiwa manusia, kelemahan dan cara mengobatinya. Ibarat sakit, lebih baik mencegah daripada mengobati. Jadi sebelum diobati hendaknya mencegah terjadinya penyakit. Dalam hal ini adalah akhlak anak didik. Sebelum mereka tumbuh dewasa dengan akhlak yang buruk maka sedini mungkin membentuk akhlak yang baik.
Sumber: https://blog.ruangguru.com/inilah-10-kriteria-untuk-jadi-guru-profesional
Menjadi Kepala Sekolah Sukses: Antara Harapan dan Kenyataan
Ketika banyak orang berniat bahkan berambisi untuk menjadi pimpinan, ada orang berpandangan bahwa lebih baik menjadi bawahan daripada menjadi pemimpin yang sibuk dengan segala urusan termasuk mengurus bawahan yang “nakal”. Tegasnya, menjadi pimpinan bukan merupakan impian semua orang. Mengapa? Karena tidaklah mudah ketika seseorang dengan segala keunikan dirinya merangkul dan memimpin semua orang (baca: bawahan dan semua pihak terkait) yang masing-masing dengan kekhasannya.
Dalam tulisan singkat ini hendak dipaparkan bagaimana menjadi seorang Kepala Sekolah, antara impian indah dalam sebuah cita-cita -di satu pihak- versus fakta –di pihak lain- yang akan dialami langsung yang mengandung potensi konflik. Namun tulisan ini sebatas sebuah ulasan teoretis yang dipadukan dengan pengamatan seorang guru mata pelajaran.
Tugas dan Peran Sentral Kepala Sekolah
Siapa sebetulnya seorang kepala sekolah itu? Dia adalah salah satu guru yang diberi kepercayaan dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
Di pundak seorang pemimpin diletakkan banyak hal yang menjadi harapan publik di lingkup instansi yang dipimpinnya. Maka menjadi seorang pemimpin seperti kepala sekolah meliputi banyak hal dan aspek, yang diakumulasi dalam tugas–tugas sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator.
Sebagai edukator, seorang kepala sekolah berupaya meningkatkan profesionalisme semua komponen di lingkup kerjanya dengan menciptakan iklim sekolah yang kondusif. Dengan demikian ia dapat dengan leluasa memberikan nasehat, mendorong dan melaksanakan model pembelajaran yang menarik seperti team teaching, moving class, accelaration program, dan lain-lain.
Sumidjo seperti yang dikutip oleh Mulyasa (2013: 99-100) menegaskan, sebagai pendidik (edukator), seorang kepala sekolah harus berusaha menanamkan, memajukan dan meningkatkan pembinaan mental, moral, fisik dan artistik. Dengan pembinaan mental yang baik dan terus-menerus, kiranya para stakeholder sekolah semakin hari semakin menghayati tugasnya sebagai karya kemanusiaan bukan sekedar sarana perolehan nafkah. Demikian pula para peserta belajar semakin hari merasa at home, kerasan atau betah di sekolah tempat mereka menimbah ilmu dan aneka pendidikan. Dengan pembinaan moral, kepala sekolah mendidik segenap komponen sekolah menyangkut sikap, tutur kata dan perbuatan serta hak dan kewajiban masing-masing tenaga pendidikan dan peserta didik.
Selain itu kepala sekolah juga membina warga sekolahnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmani, kesehatan fisik dan penampilan lahiriah yang baik ketika berada dalam lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Dan yang tidak terlupakan, seorang kepala sekolah juga perlu membina kepekaan terhadap keindahan sekolah baik di dalam ruangan-ruangan maupun di lingkungan sekitarnya.
Dalam peranannya sebagai manajer, seorang kepala sekolah sebaiknya secara strategis mendorong dan memafasilitasi kerjasama yang baik, memberi ruang dan waktu untuk berkreasi meningkatkan kinerja kerja masing-masing pihak, dan menggunakan kemampuan individual sebagai kekuatan bersama dalam membangun sekolah yang dipimpinnya. Dalam kebersamaan kepala sekolah memanfaatkan segenap kekuatan sekolah dalam mewujudnyatakan visi dan misi sekolah (serta spiritualitas sekolah –khusus sekolah swasta).
Sebagai administrator, kepala sekolah selalu berhubungan dengan hal menyangkut pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh aktivitas sekolah. Kosekeuensinya, seseorang yang terpilih menjadi kepala sekolah haruslah paham benar tentang pengelolaan kurikulum, administrasi peserta didik, administrasi personalia, sarana prasarana, kearsipan, dan administrasi keuangan.
Sebagai pemimpin di lembaga pendidikan formal sekolah, tugas dan tanggung jawab yang amat penting juga adalah perannya sebagai supervisor.Dalam hal ini segala aktivitas di sekolah ini disupervisi. Ada pengawasan dan pengendalian sebagai kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan serta sesuai dengan visi, misi dan spiritualitas sekolah yang dipimpinnya.
Kegiatan supervisi dapat dibuat dalam bentuk diskusi kelompok, kunjungan kelas, pembicaraan individual, dan simulasi pembelajaran.
Selain tugas-tugas di atas, kepala sekolah juga sebagaileader,yang senantiasa memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga pendidikan, membuka wawasan dua arah, mendelegasikan tugas. Untuk itu, menurut Wahjosumijo seperti yang dikutip oleh Mulyasa, seorang kepala sekolah harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan (Mulyasa, 2013: 115).
Sebagai innovator, kiranya seorang kepala sekolah senantiasa membuat terobosan-terobosan baru yang dapat menunjang dan meningkatkan kualitas segala aktivitas di sekolah. Orang yang inovatif diindikasikan dengan karya-karya yang bersifat konstruktif, kreatif, delegatif, integratif, rasional dan obyektif, pragmatis. Keteladanan, kedisiplinan, adaptable, dan fleksibel juga ciri-ciri yang menggambarkan seseorang itu mampu membuat inovasi di lingkungan tempat kerjanya.
Orang yang inovatif biasanya berusaha mencari, menemukan dan melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolahnya. Hal-hal baru seperti moving class,pembelajaran berbasis ICT dilengkapi dengan kecakapan menggunakan program-program komputer tertentu dalam presentasi merupakan contoh konkret pembaharuan di sekolah.
Sebagai motivator, seorang kepala sekolah selalu memberikan motivasi kepada segenap tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Peran ini bisa diwujudkan dengan pengaturan lingkungan fisik yang kondusif dan menunjang pelaksanaan tugas masing-masing komponen sekolah. Apalagi jika ditunjang dengan menciptakan suasana kerja sama yang baik dan sehat serta profesional, orang akan semakin terdorong untuk bekerja dengan lebih giat dan menunaikan tugas dan tanggung jawabnya di sekolah sesuai job desciption.
Dalam hubungan dengan motivasi juga, keteladanan seorang kepala sekolah dalam hal kedisiplinan sangat berpengaruh. Meningkatkan profesionalisme di sekolah antara lain dengan memupuk kedisiplinan.
Pemberian motivasi atau dorongan perlu juga disertai pemberian penghargaan (rewards) kepada bawahan atau rekan kerja di lingkungan sekolah. Dengan itu setiap komponen dengan sadar bekerja sesuai “tupoksi” (tugas pokok dan fungsi) secara positif dan produktif (Mulyasa, 2013: 122).
Harapan Versus Kenyataan
Semua tugas, peran dan tanggung jawab sebagaimana dibeberkan di atas merupakan harapan yang patut dimiliki dan dibuat oleh seorang kepala sekolah. Namun dengan besar hati perlu disadari bahwa perwujudannya tidak semudah menganggukkan kepala tanda setuju. Ada saja aral rintangan menghadang.
Banyak hal yang dicita-citakan tidak selamanya dapat dibuktikan. Banyak hal yang direncanakan mungkin akan gagal. Kalau toh terpenuhi belum tentu sesuai dengan rencana dan harapan.
Karena itu dalam pelaksanaan tugas, peran dan tanggung jawabnya seorang kepala sekolah harus bermodalkan keuletan dan sikap bijaksana. Sebab memimpin orang baik para guru bawahan dan pegawai serta para peserta didik dengan segala keunikan diri hanya bisa berhasil jika ia dengan sabar dan lapang dada berhadapan dengan segala permasalahan yang bakal menghadang. (Oleh: Eustachius Mali)
Sumber: www.kompasiana.com







